Pengusaha Suwar-suwir Cemaskan Disinsentif PLN
Industri rumah tangga pembuatan jajanan tradisional suwar-suwir cemas dengan kebijakan disinsentif listrik oleh Perusahaan Listrik Negara. Ancaman penghematan listrik atau denda tidak memperhatikan aspek penggunaan listrik untuk kebutuhan industri kecil.
Rendra Wirawan, ketua Himpunan Pengusaha Suwar-Suwir (Hipsa), menyatakan tidak tahu penghematan bagaimana yang diinginkan PLN. "Penggunaan listrik kami sudah efisien. Kalau masih harus dihemat lagi, maka suwar-suwir tak akan jadi suwar-suwir, tapi malah jadi dodol," katanya, Selasa (4/3/2008).
Dalam pembuatan jajanan suwar-suwir, pengusaha menggunakan listrik selama enam jam per hari untuk menggerakkan dinamo mixer (alat pencampur) bahan adonan kue.
Daya alat sekitar 1.300 watt. Belum lagi pemakaian kulkas dan pemanas pada musim hujan. "Saya menggunakan pemanas untuk mengeringkan kue kalau hujan," kata Rendra.
Sementara itu, sosialisasi mengenai disinsentif listrik juga belum maksimal. Tidak semua pelaku industri kecil memahami hal itu. "Kami imbau kepada PLN untuk meninjau kebijakan itu. Kalau diterapkan, berikan subsidi kepada usaha kecil mikro," kata Rendra.
Wakil Ketua Komisi B DPRD Jember Niti Suroto mengatakan, kebijakan PLN akan mengorbankan pelanggan rumah tangga kecil. "Usaha mikro tentu akan terpengaruh. Kami minta dinas terkait untuk mengambil langkah. Kami akan turun lapangan untuk memantau dampak kebijakan ini kepada pelaku usaha kecil," katanya.
Sebagai awal, Komisi B akan memanggil PLN untuk menjelaskan kebijakan tersebut. Dewan juga ingin tahu sejauh mana sosialisasi telah dilakukan kepada masyarakat.
Bagaimana dengan subsidi untuk industri rumah tangga? Suroto menegaskan, tahun ini subsidi terkait listrik tidak dianggarkan. "Yang ada dana yang diparkir di Bank Jatim untuk kredit usaha kecil. Kami akan minta evaluasi Bank Jatim sejauh mana dana ini dimanfaatkan," katanya. Dana yang diparkir itu mencapai Rp 5 miliar.Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Mirfano belum bisa menjelaskan secara lebih jauh. "Kami masih perlu menghitung dulu (dampak kerugian untuk UKM)," katanya via ponsel. [Beritajatim.com]
Selasa, Maret 04, 2008
Rabu, Februari 27, 2008
Cemas Susu Kaleng, Anggota Dewan Kembali ke ASI
Munculnya kabar hasil penelitian merek susu formula ditengarai mengandung bakteri enterobacter sakazakii menggelisahkan masyarakat. Pasalnya, merek-merek susu formula yang bermasalah belum dijelaskan. Bahkan, akibat kekhawatiran itu, sebagian orang sudah berpikir hanya memanfaatkan air susu ibu (ASI).
"Mau bagaimana lagi? Kalau ternyata susu kaleng banyak mengandung bakteri, lebih baik anak saya hanya minum ASI," kata anggota Komisi B Rendra Wirawan, Rabu (27/2/2008).Rendra memiliki bayi yang berusia baru 11 bulan. Selama ini selain diberi ASI, sang anak juga mendapat minuman susu kaleng sebagai tambahan.
Rendra mendesak pemerintah untuk segera memperjelas persoalan tersebut agar tak hanya menjadi isu. "Kalau memang benar, umumkan merek-mereknya agar masyarakat tak gelisah," katanya.Permintaan serupa juga meluncur dari Deby, juragan toko Slamet.
Selama ini sejumlah konsumen selalu menanyakan merek susu yang aman dari bakteri. "Saya bingung mau menjawab apa, wong tidak tahu," katanya.
Deby boleh bersyukur, kabar susu formula berbakteri tak menjatuhkan jumlah penjualan. Selama ini penjualan susu formula masih stabil. Andai pun ada yang ditarik, itu hanya dikarenakan sudah kadaluwarsa atau akibat kemasan yang rusak.
Agustini, salah satu ibu rumah tangga, menjelaskan dirinya diberitahu oleh salah satu kerabat bahwa bakteri bisa mati jika air dididihkan pada suhu 70 derajat celcius. "Tapi kalau sudah dipanaskan, apa bisa cepat mendinginkannya. Kalau anak nangis keburu minta susu bagaimana?" katanya.
Firman Setiawan, anggota Komisi B, sempat melakukan sidak ke toko untuk mengetahui pendapat masyarakat mengenai kabar tersebut. Hasilnya, masyarakat dan anggota dewan sama-sama bingung. "Balai POM sebaiknya segera menginformasikan masalah ini secepatnya kepada masyarakat, agar tidak simpang siur," kata Setiawan. [Beritajatim.com]
Munculnya kabar hasil penelitian merek susu formula ditengarai mengandung bakteri enterobacter sakazakii menggelisahkan masyarakat. Pasalnya, merek-merek susu formula yang bermasalah belum dijelaskan. Bahkan, akibat kekhawatiran itu, sebagian orang sudah berpikir hanya memanfaatkan air susu ibu (ASI).
"Mau bagaimana lagi? Kalau ternyata susu kaleng banyak mengandung bakteri, lebih baik anak saya hanya minum ASI," kata anggota Komisi B Rendra Wirawan, Rabu (27/2/2008).Rendra memiliki bayi yang berusia baru 11 bulan. Selama ini selain diberi ASI, sang anak juga mendapat minuman susu kaleng sebagai tambahan.
Rendra mendesak pemerintah untuk segera memperjelas persoalan tersebut agar tak hanya menjadi isu. "Kalau memang benar, umumkan merek-mereknya agar masyarakat tak gelisah," katanya.Permintaan serupa juga meluncur dari Deby, juragan toko Slamet.
Selama ini sejumlah konsumen selalu menanyakan merek susu yang aman dari bakteri. "Saya bingung mau menjawab apa, wong tidak tahu," katanya.
Deby boleh bersyukur, kabar susu formula berbakteri tak menjatuhkan jumlah penjualan. Selama ini penjualan susu formula masih stabil. Andai pun ada yang ditarik, itu hanya dikarenakan sudah kadaluwarsa atau akibat kemasan yang rusak.
Agustini, salah satu ibu rumah tangga, menjelaskan dirinya diberitahu oleh salah satu kerabat bahwa bakteri bisa mati jika air dididihkan pada suhu 70 derajat celcius. "Tapi kalau sudah dipanaskan, apa bisa cepat mendinginkannya. Kalau anak nangis keburu minta susu bagaimana?" katanya.
Firman Setiawan, anggota Komisi B, sempat melakukan sidak ke toko untuk mengetahui pendapat masyarakat mengenai kabar tersebut. Hasilnya, masyarakat dan anggota dewan sama-sama bingung. "Balai POM sebaiknya segera menginformasikan masalah ini secepatnya kepada masyarakat, agar tidak simpang siur," kata Setiawan. [Beritajatim.com]
Langganan:
Postingan (Atom)